Bukan mau cerita tentang band naif, tapi tentang kita yang hidup dan suka naif.
Disaat yang sama kita bicara tentang menghargai orang lain? disaat itu kita enggan mendengarkan, kita lebih suka didengarkan.
Disaat yang sama kita memaki wakil rakyat yang menaiki mobil mewah, kita memberinya titel koruptor, disaat itu kita mencuri waktu untuk browsing di sela-sela jam kerja, kita lebih suka chatting dari pada working. hmm gw bangeeettttt...
Disaat yang sama kita berteriak untuk peduli lingkungan disaat yang sama pula kita mengepulkan asap rokok.
Caci maki dan unjuk kebolehan "cuap-cuap" untuk mengungkapkan argumen kadang membuat orang lupa untuk berintrospeksi diri, bahwa cucok gak sih apa yang keluar dari mulut dengan tingkah laku kita. Sssttt kalo gak, gak usah omong.Diam.
Lalu aku hanya berintrospeksi diri, bukan untuk memaki orang lain naif. Aku juga terlalu "naif" menuliskan semua ini.
Seorang temen bilang hal yang paling susah dari seorang pinter adalah "sikap tidak mau disalahkan", saat disalahkan panjang bangetttt argumennya.
hiii naif banget ya... "jangaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnlaaaaaaaaahhhh engkau bersedih"
21 July 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment