Pages

30 September 2009

Semesta Cinta

Sebaiknya cinta tak menyakitkan dan menyiksa. Karena kodrat cinta adalah membahagiakan. Bagaimana dengan cinta bertepuk sebelah tangan? Wiiiii merinding nulisnya, emang ada ya cinta bertepuk sebelah tangan? Atau cuma mengada-ngada. Hanya sekedar simpati, suka, kagum lalu mengatasnamakan cinta. Banyak hal bisa tercipta atas nama cinta, karena selalu menarik perhatian. Berapa banyak lagu, film dan buku bertema cinta yang tercipta dan selalu laris manis.
Mungkin karena cinta itu banyak wujudnya ya sebut saja
Cinta Pertama
Unforgettable. Apalagi kalau awalnya terjadi di perpustakaan, tempat yang baik untuk awal yang baik. Sayangnya semua yang baik belum tentu berakhir baik. Jadi yang merasakan hal ini sabar ya. Tetap jalani hidup ini perlakukan yang terbaik. Lets gone be by gone. Jangan minum baygon. (Narsis. Mode On)
Dulu saat manis-manisnya cinta pertama melanda, sempat terpikir “yang pertama dan yang terakhir” (referensi : dari seorang anak sma)
Lalu anak sma itu menyanyikan lagu Kasih Tak Sampai – nya Padi. Lagu ini tentu saya ingat betul, lagu dipernikahan saya yang dinyanyikan oleh laki-laki yang saya sebut suami. Kenapa ya kok lagu itu yang dinyanyikan? Kayaknya gak nyambung. Mungkin karena ia tau saya sangat suka Padi waktu itu, hingga tak lupa ia selipkan cd lagu padi dari album pertama mpe album terakhir disamping cincin dan teman-teman..

Cinta Sejati
Mungkin ini hanya milik cinta antara ibu dan anak. Saya meragukan selain itu. Karena cinta sejati benar-benar tanpa pamrih. Sehalus apapun pamrih itu.
Duhai Allah, jangan biarkan cintaku mengalahkan cinta hamba terhadap Mu.

Cinta Monyet
Maaf bukan monyet so gak bisa jelasin :D. Katanya sih cinta anak-anak gitu deh. Bisa aja jadi cinta pertama terus jadi cinta beneran dilevel bawah cinta sejati. Jangan menyepelekan cinta monyet. Kualat ntar, monyetkan nenek moyang iiiiii mit amit deh.

Cinta bertepuk sebelah tangan
Kalo kamu memang cinta beneran dengan seseorang dan bertepuk sebelah tangan. Simpan saja cinta itu dihatimu. Kasih ruang yang istimewa buat rasamu itu. Dan isi ruang lain dengan cinta yang lain, pasti ada seorang yang mencintai kamu. Dan katanya dicintai itu lebih indah daripada mencintai. Jadi gak usah dipikirin.
Dunia tak selebar daun kelor.

Cinta lama bersemi kembali (CLBK)
Kalu waktunya tepat, apasalahnya. Kalau tidak, sulap indahnya cinta dalam sebuah persahabatan. TTM dong ya?nggak juga. Cinta yang baik dan sehat itu, kebahagiaannya tidak hanya dirasakan oleh berdua saja. Tapi juga syaratnya harus TIDAK ADA YANG TERSAKITI.. Itu menurut saya loh. Ups persahabatan ya…mungkin persahabatan bisa masuk dalam kategori cinta sejati. Sekali lagi ini pemikiran awam tentang Cinta

Cinta mati
Matii aja loo, lakukan lah dengan wajar tidak usah berlebihan.

Cinta terlarang
OMG kaya judul lagu ya…no comment. Ingat catatan dibawah CLBK. Kalau ada yang disakiti jangan dilanjutkan.

Cinta Fitri
halah! Inikan sinetron

Cinta lokasi
At the moment/ for a while/temporary. Tapi banyak yang berlanjut, itu wujud cinta. Datang kapan saja, dimana saja. Itu kenapa saya lebih suka menyebut perpustakaan tepat yang baik daripada kantor [pada komentar cinta pertama]. Dizaman dimana para perempuan menikmati hasil perjuangan emansipasi banyak bersinggungan dengan lawan jenis, lalu melupakan apa yang disebut profesionalisme kerja. Lagi-lagi ini pemikiran awam
Tapi ada pagar untuk semua itu : hati dan logika. Atas nama cinta jangan pernah tinggalkan itu.

Pas jam 12 malem. Saat saya menoleh kebelakang. Waktunya saya menutup laptop.
I love u honey.

09 September 2009

cerita tak bermakna

Perjalanan

Kukabarkan padamu tentang sebuah perjalanan. perjalanan yang telah melalui tanah yang kering laksana gurun dengan pohon-pohon tak berdaun sebagai peneduh. Debu-debunya menusuk-nusuk mata hingga meleleh. Dahaga merobek-robek tenggorokan. Panasnya membakar kulit, hingga terkelupas. Jilbab putih berubah warna menjadi abu-abu cenderung hitam. Perjalanan ini melelahkanku. Aku tak berani menantang matahari, bersembunyi dibalik pohon-pohon tak berdaun itu. Kering sekering jiwa ini.

Aku berlutut tak kuasa lagi berdiri, seperti pohon ini yang telah miring karena akarnya pun kering.
Sampai kulihat dibatas pandang terjauh mataku yang meleleh ini genangan air di samping pohon tak berdaun diujung sana. Kuseret kaki serta badanku. Hingga sampai pada pohon tak berdaun lainnya dan lainnya dan lainnya tak kutemukan genangan air. Kusadar semua hanya fatamorgana.
Kini aku terduduk tak lagi berlutut untuk kemudian tersungkur. Semuanya gelap.

Percikan air tanah menyadarkan aku, hujan menyirami tanah kering kutampung air hujan dengan kedua tanganku, kuminum perlahan kurasakan tiap tetes aliran air menuruni tenggorokan keringku. Kuusap wajah yang telah lama tak kulihat rupanya.
Hujan berhenti. Aku siap melangkah pergi, meninggalkan kekeringan di tanah ini, kulihat pohon-pohon tak berdaun yang pernah menjadi tempatku berteduh masih basah sisa air hujan. Bagaimana ia bertahan di tengah tanah kering ini? bagaimana aku berteduh jika ia tidak bertahan?

 Aku hanya ingin pulang. Pasti kuingat perjalanan ditanah kering ini.
aku akan mengenangnya saat kurasakan sejuknya air menyentuhku, melalui sela-sela jari kaki.
Saat teduhnya pohon berdaun rindang menaungiku.
Saat keramaian disekelilingku.
Saat aku bercermin melihat rupa di genangan air tenang yang bening.
Saat putih itu adalah putih tak menjadi abu-abu.
Saat hangatnya mentari pagi menyapa.
Saat kutau tak mampu hidup sendiri dan
Saat kusampai diujung perjalanan.

07 September 2009

di hari yang biasa

Hari yang biasa, I feel not well, just sleep. Sleep not make my body is fresh.
It’ s Sunday morning, tomorrow, ready or not full activity again. Huffff …I have written some things to done in my note. Confirm my ticket one of them. But before I have to get permission from bos. Huff again… !!! jangan mengeluh… ya it’s good advice.
If I get my permission, it’s mean I will go to jambi la la laa

No huff again ok I wake up. It’s nine o clock. My daughter will taking a bath and breakfast.
Spaghetti? not now honey --- [sambil rapiin sprey, dah rapi malah mengundang ngelanjutin mimpi tadi alias tidur]
Gak mau pokoknya sekarang.---[@#$%$^%^&*() = ngomel]
Bagaimana kalo makan nasi dulu nanti kalo buka baru kita buat spaghettinya ok?
Ga! Aya ga mau buka mau tutup aja --- [aduh apaan siy ni anak kecil]
Buka puasa maksud bunda, bukan buka tutup --- [!@#$%^^&]
Hehehehe --- [ih kok ketawa sih]
Jadi gimana aya mau saur apa? Energen trus makan nasi ya?
Ga itu salah, begini harusnya minumnya energen makannya sama Spaghetti dan nasinya sedikit aja ---[kok susah diomonginnya ya]
[ok tegas! Tarik nafas hemmm..]bunda ga mau ya anak bunda ususnya dipotong gara-gara kebanyakan makan mie --- [anak kecilnya mikir tuh]
Ya deh...---[ akhirnya]

Siang menjelang sore..hoaaammm masih ngantug…
Bunda ayo bikin Spaghetti nya? --- [dengan mata yang setengah melek..masih inget aja niy :(]
Bunda cantik deh --- [ih pake ngerayu lagi]
Senyum kecut
sini Spaghetti nya
eit tebak dulu, klo ngga, aya ga mau kasih – [diiihh yang minta dimasakin Spaghetti sapa yaaaa]
apaan?
Hidungnya panjang , apaan ayo?
Kecil, [sembari nyentil kelingking] GAJAH
Niy spagettinya [mesam mesem]
hihihihihihi
aya mo bantuin bolehkan bun?
Bole
Ini untuk apa bun? Apaan sih tuh bun? Kok lama ya? Kenapa harus diginiin? Kenapa ga gitu aja?
Gini aja deh, aya main dulu ntar kalo dah selesai baru bunda panggil
Ga ah --- [@$#@$#%%^&& grrrrrrr ndumel mode on]
Akhirnya jadi juga.
Hmmm enak banget bun, top pokoknya. ---[Lahap banget]
Alhamdulillah. Baca doa dulu dong.
Iya ---[komat kamit baca doa]
Emang doa apaan? Doa makan kan? panjang banget doanya
Emmm --- [mengangguk sambil ngunyah] trus doain bunda biar nggak ngantug aja.

*** GUBRAG ***

01 September 2009

Kepada Angin

Ada yang kosong, hampa terasa jauh direlung hati ntahlah apa itu. Segenap kesunyian makin terasa, desir angin, dan suara daun bambu bergesekan indahnya nyanyian alam, aku menuju ke tengah lapang yang dipenuhi rumput hijau, dengan tinggi yang sama, sedikit menengadahkan kepala menantang langit, reflek tangan terbuka hemmmhh lembut serasa belaian sang bunda, wahai angin terbangkan segala duka dan sepi, tak terasa lelehan air mata yang tersambar angin, terpecah hingga membasahi pelipis kanan.

Duhai angin darimana asalmu, apakah kamu membawa sebuah kabar? Sebuah cerita darinya? Ceritakan padaku angin. Aku mulai berputar-putar. Wahai angin, segera ceritakan padaku. Sebelum kau tinggalkan aku [lagi]. Tapi semua diam, apa itu berarti tak ada cerita [lagi]?, tak ada kabar [lagi]? atau aku tak perlu bertanya lagi. Aku menunggu jawaban kepastian menatap langit yang tak sama dengan langit yang pernah kulihat bersamanya ditanah tempat kutinggalkan dia. Langit yang berwarna biru rata, dengan hijau daun kelapa bingkainya. Saat itu duhai angin, kurasa mata miliknya lebih indah dari birunya langit, lebih luas dari langit, aku ingin terus menatap mata itu, tapi aku selalu melawan kehendak hatiku. Karena itu aku ingin kembali tidak hanya untuk melihat langit yang kini sudah tak sebiru waktu kutinggalkan, tapi juga sosok yang kutinggalkan.. Sang angin mengukir langit, terukir senyum yang sangat kukenal, kulihat senyum itu makin indah, terukir mata yang dulu aku tak berani menatap, aku tak bisa lupa dengan sorot mata itu, sesaat senyumku tertahan, aku iri untuk keindahan senyumnya kemudian aku mulai tersenyum lebar untuk kebahagiaannya kini dan untuk sosok mungil yang membalas senyumku diambang pintu itu tulus.

Angin, terima kasih untuk memperlihatkan senyumnya dan mengizinkan aku berlama-lama menatap ukiran mata itu. Aku berjanji tak kan mengusiknya. Aku hanya ingin menyaksikan.
Kuharap tulus setulus belaian sang angin, membelai dan berlalu begitu saja tanpa harap balasan.