Pagi ini telepon saya bergetar untuk kesekian kalinya,
sepanjang pagi saudara-saudara di kampung halaman menanyakan kabar,
"baik-baik aja kan?", suara kakak ipar saya diseberang sana.
"hati-hati ya". klik, telpon diseberang ditutup.
Sebenarnya saya sendiri tidak merasakan (ikut bergoyang) saat gempa sore itu.
Semua orang bicara gempa, bicara tsunami yang menelan ratusan jiwa.
Semua subject bertajuk gempa..dimilis, ditivi, dikoran.
Sebenernya apa yang terjadi?
Terlalu beruntun bencana ini, Tsunami di Aceh, gunung merapi, gempa di Yogya dan Jateng, longsor dimana-mana,
gempa dan tsunami di sepanjang selatan Jawa, gempa dan tsunami di selat sunda dan...
"mungkin Tuhan telah bosan melihat tingkah kita.." kata mr Ebiet g Ade dalam lagunya.
"teh...gempa tsunami ya...ck..napa ya...apa dunia ini udah tua ya?",
sapa tetangga saya dalam suasana pagi, saya sedang mengajak Catley berjalan-jalan.
"kayaknya Tuhan dah benar-benar marah ini, lihatlah klo Tuhan sudah berkehendak
dengan air saja bisa menghancurkan segalanya", begitu percakapan menjelang malam, lengkap dengen brownies bantat :(.
"nih tanda-tanda kiamat, semua diratakan dengan tanah...", kata uyutnya catley tempo hari.
"peringatan nih bagi para koruptor (nyambung gak sih ...namanya juga persepsi orang)" (lupa kata siapa.red)
"indonesia kan emang dikelilingi dengan pertemuan lempeng-lempeng", begitu kata seorang teman saya.
"Banyak juga orang berpendapat bahwa bencana-bencana sekarang ini adalah
pertanda peringatan dari Tuhan yang sudah tak senang dengan umatnya", kata temen dimilis.
Ada juga yang bilang,"tapi saya berpendapat bahwa drama kehancuran geologis saat ini adalah
siklus alam belaka - semacam regenerasi planet dan semua adalah karena alam (act of nature).
Semua ini adalah pertanda bagi kita untuk waspada, selagi masih ada waktu: prahara mulai melanda, buka mata, pasang telinga!"
Ya, saya setuju...selagi masih ada waktu.