Perjalanan
Kukabarkan padamu tentang sebuah perjalanan. perjalanan yang telah melalui tanah yang kering laksana gurun dengan pohon-pohon tak berdaun sebagai peneduh. Debu-debunya menusuk-nusuk mata hingga meleleh. Dahaga merobek-robek tenggorokan. Panasnya membakar kulit, hingga terkelupas. Jilbab putih berubah warna menjadi abu-abu cenderung hitam. Perjalanan ini melelahkanku. Aku tak berani menantang matahari, bersembunyi dibalik pohon-pohon tak berdaun itu. Kering sekering jiwa ini.
Aku berlutut tak kuasa lagi berdiri, seperti pohon ini yang telah miring karena akarnya pun kering.
Sampai kulihat dibatas pandang terjauh mataku yang meleleh ini genangan air di samping pohon tak berdaun diujung sana. Kuseret kaki serta badanku. Hingga sampai pada pohon tak berdaun lainnya dan lainnya dan lainnya tak kutemukan genangan air. Kusadar semua hanya fatamorgana.
Kini aku terduduk tak lagi berlutut untuk kemudian tersungkur. Semuanya gelap.
Percikan air tanah menyadarkan aku, hujan menyirami tanah kering kutampung air hujan dengan kedua tanganku, kuminum perlahan kurasakan tiap tetes aliran air menuruni tenggorokan keringku. Kuusap wajah yang telah lama tak kulihat rupanya.
Hujan berhenti. Aku siap melangkah pergi, meninggalkan kekeringan di tanah ini, kulihat pohon-pohon tak berdaun yang pernah menjadi tempatku berteduh masih basah sisa air hujan. Bagaimana ia bertahan di tengah tanah kering ini? bagaimana aku berteduh jika ia tidak bertahan?
Aku hanya ingin pulang. Pasti kuingat perjalanan ditanah kering ini.
aku akan mengenangnya saat kurasakan sejuknya air menyentuhku, melalui sela-sela jari kaki.
Saat teduhnya pohon berdaun rindang menaungiku.
Saat keramaian disekelilingku.
Saat aku bercermin melihat rupa di genangan air tenang yang bening.
Saat putih itu adalah putih tak menjadi abu-abu.
Saat hangatnya mentari pagi menyapa.
Saat kutau tak mampu hidup sendiri dan
Saat kusampai diujung perjalanan.
1 comments:
kagak ngerti tuch...
Post a Comment