Pages

11 March 2010

Tukang sate dan Pejabat

Percakapan Unik

Sore itu sambil menunggu hujan saya mampir di tukang sate padang dipinggir jalan
'da, satenya satu, ketupatnya setengah aja'
si uda mulai membuat sate padang yang sedari tadi menggoda selera.
'da, dipadang ada sate padang ga?'
'sekarang udah ada, karena orang dah banyak tau’
'klo rumah makan padang?'
'sama, baru2 sekarang ada tulisan rumah makan padang klo dulu cuma kayak warung nasi aja'
ya ya aku mengangguk2 sambil menyantap sate padang
'saya orang jambi da'
'oo orang jambi, saudara saya ada yang dijambi dia nikah ma orang kubu. '
gleg ‘orang kubu?’
'iya orang asli jambi orang kubukan?'
aku mengangguk sambil mengunyah sate yang menurutku yang lapar ini cukup enak. Mmm mungkin dia kira aku orang kubu. It’s Ok.
‘saya kira orang kubu gak nikah dengan suku lain’. Sahutku setelah menelan sate yang telah halus kukunyah.
'saudara saya itu tinggal di angso duo'
‘oo tukang sate juga’ sahutku yakin, sambil mengacungkan jari telunjuk. Yaaa aku jadi teringat di daerah angso duo dipinggiran sungai batang hari, disore hari mulai berjajar tukang sate, jagung bakar, dan air tebu. Hmmm miss them so much w all my heart.
'oo bukan saudara saya bergerak dibidang bangunan' suara si tukang sate membuyarkan lamunan.
‘berapa da’
‘biasa 9 ribu’
Setelah selesai bertransaksi aku segera out dari tenda si uda tukang sate.
percakapan santai yang menyenangkan.

Percakapan Oon

‘harusnya yang melakukan penawaran disini , ditulis dong profitnya berapa?’, kata si p oon menunjukan kertas rab penawaran dari sebuah perusahaan rekanan.
Saya yang dari tadi mendengar pura2 ga dengar saya melihat teman yang tadi ditanyain ga tau harus ngomong apa , ga tau kalo dia pura2 ga tau atau bener2 ga tau. P Oon ngomongin hal yang sama lagi lagi dan lagi. Akhirnya sampai juga matanya ke arah saya.
Jujur saya kasihan, saya menganggap bapak oon itu ga tau dan saya ingin meluruskan.
‘Pak, kayak orang jualan bawang aja, ga dia kasih tau keuntungan yang dia dapat’, belum selesai saya menjelaskan, si p oon seperti gak mau terima penjelasannya.
‘Loh harusnya ditulis dong dalam rab, gimana kita tau dia dapat untung berapa?’. Suaranya kenceng, matanya melotot. Temen saya dan saya mencoba menjelaskan.
Tapi dia makin ngotot.
'Lagian rab inikan ga akan dimasukan dalam buku kontrak’timpalnya sok tau.
‘Masuk dong pak’, jawab aku dan temenku serentak.
bla bla bla terus si p oon terus ngoceh. Menutupi ke oon an nya. Gelar aja SE, MSi.
Berasa ngomong ma tukang becak. Mungkin ngobrol ma tukang becak ga segininya juga kali. Seperti percakapan dengan tukang sate kayaknya lebih asyiik. Lebih masuk akal.
Haaa ternyata yang katanya pejabat, orang berkelas, orang terhormat , sekolah tinggi cuma bisa ngotot, ngomong pake otot, gak gunain otak.
percakapan yang aneh.

0 comments: