yang paling menyedihkan itu perpisahan...
Perpisahan begitu
menyedihkan...tapi selalu bersanding dengan pertemuan. Semua kisah selalu
diawali dengan pertemuan langsung maupun tidak langsung, maya ataupun nyata.
Perpisahan dengan orang tua, suami/istri, anak, sahabat, teman,
pacar, pembantu dan semua orang-orang terdekat yang menjadi bagian dari hidup,
yang menjadi bagian dari cerita yang memberi warna. Pernah suka, tertawa
bareng, Saling rangkul dikala duka melanda, saling mengingatkan, yang
menyediakan bahunya untuk disandar, yang memberikan sehelai tisyu, yang
mengulurkan tangan untuk diraih dan memberi maaf kembali berbaikan dan masih
banyak lagi.
Perpisahan selalu
menyedihkan saya membayangkannya saja mulai merasakan hawa kesedihan itu
pikiran itu dikepala saya berkolaborasi baik dengan tenggorokan membuatnya
langsung mengering, begitupula dengan kelenjar air mata langsung menumpahkan
persediaan air mata.
Sore itu anak
bungsu saya yang lucu mengajak saya untuk menemaninya bermain, tapi badan saya
tak begitu fit untuk itu , walaupun sudah saya beri penjelasan dia terus
merengek sambil menarik-narik tangan saya untuk bermain. Padahal pinggang,
punggung, bahu dan kepala terasa sakit dan saya hampir tak kuat menahan itu.
“dedek main sama
kakak dulu ya”
“gaaaakkkk”
“bunda lagi sakit
dek”
“bundaaaaa” sambil
tarik-tarik tangan saya. Saya sedih sekali waktu itu ga banyak waktu yang saya
habiskan bersama anak saya, dan anak saya pun secara alami tak banyak waktu menunggu, dia ga
akan lama untuk tetap kecil merengek dia
akan cepat terus tumbuh menjadi besar dan setelah besar pasti akan susah sekali
untuk dipeluk dan diciumi. Tapi kondisi tubuh saya benar-benar sakit. Saya
bayangkan alangkah sedihnya bisa saya meninggalkannya saya hanya selintas
membayangkan itu tapi mata saya mulai perih dan air mata mulai terasa akan
tumpah. Oh God...semua adalah suratan takdir.
Karena air mata
mulai terasa dipermukaan mata dan kalo si bungsu yang lucu ini tau pasti banyak
pertanyaan. Saya pejamkan mata untuk menghindarinya.
“bunda bangun...”
Saya diam tak bergeming
mata terpejam dan kepala saya jatuh menjauh dari sisi dimana ia berada.
“bunda”
digoyang-goyangkannya badan saya dibuka-bukanya kelopak mata saya, dengan nada
sedih dia bilang “ya bunda mati...” dan lari menghampiri kakaknya “kak bunda
mati”
“iiyy bimo”
terdengar suara kakaknya
“sini kak”
digeretnya kakaknya
“iyy
bunda..”kakaknya dah hapal betul bagaimana membuat saya geli kemudian tertawa.
“bunda jangan gitu
dong” kata sikakak kembali ke tempatnya.
Sibungsu masih
tertawa bersama saya...ia senang saya masih bersamanya tertawa. Saya pura-pura
pingsan.
Dia terdiam sesaat
memegang kelompak mata saya yang meratap dan kemudian berlari ke kakaknya
“kak bunda mati
lagi” rengeknya
Kakaknya tertawa
dan saya pun langsung bangkit dan tertawa. Bimo pun ikut tertawa
Ya Allah nak...
“Bunda jangan gitu
lagi dong” kata si kakak
“kalau iya(beneran)
bagaimana?”
“ihhh bunda " kakak menutup matanya dengan keduatangan "aya ga mau”
“Ga boleh ngomong
begitu” saya memberi isyarat dengan telunjuk. Kami (saya dan kakak ) sepakat
untuk diam dan tidak membahasnya
Perpisahan emang
susah untuk diterima. Dari perpisahan dengan seseorang mengakibatkan pisah
dengan suasana dan kondisi yang pernah tercipta. Sangat menyedihkan apalagi
perpisahan itu bersifat permanen didunia ini.
Tidak dengan orang,
perpisahan dengan barang yang kita miliki sayangi yang kita jaga keberadaannya
pun membuat kita sedih. Saya pernah kehilangan hp saja menjadi segalanya terasa
sulit. Buntutnya bisa menyedihkan soalnya mengakibatkan saya berpisah dengan
duit tabungan.
00.03
Mulai dini hari nih
memasuki hari baru, mengapa kita tak berasa sedih..padahal hari-hari terus
berlalu tapi diminggu yang akan datang akan ketemu lagi dengan hari rabu ,bila
jasad ini belum berpisah dengan ruh. Mungkin karena ada harapan untuk menjadi
lebih baik di hari berikutnya, ada cita-cita yang ingin dicapai, karena ada
orang-orang disekitar lingkungan kita
yang selalu mengisi hari-hari dan berharap akan kita jumpai esok hari.
Sleep well all. Maafkan segala salah.
0 comments:
Post a Comment