Pilpres sudah selesai, kembali ke kehidupan sehari-hari seperti biasa. Ga ada bedanya buat saya sebelum dan sesudah, mungkin bagi temen-temen yang ikut nyaleg sebelumnya berkampanye sekarang bersiap-siap menduduki kursi dewan dan lain sebagainya.
Status-status berganti dari yang berbau politik mungkin akan menjadi tentang persiapan Ramadhan, saatnya menata hati bukan?
Di Facebook, IG, Twitter mungkin berganti menjadi kajian-kajian atau cara-cara mengisi waktu yang lebih bermanfaat dibulan suci. Supaya apa? supaya Allah ridha dan hidup didunia ini menjadi ladang buat beribadah kepadaNya.
Atau persiapan liburan panjang dengan searching travel agent yang menawarkan paket murah meriah ke Luar Negeri.
Atau tips mencari sekolah anak yang baik, saya suka sekali membaca berbagai cerita orang tua yang inspiratif mengenai ini. Mungkin ada yang tertarik sama sekolah negeri saja, ada juga yang pesantren, atau sekolah swasta lainnya dengan berbagai tema. Semua menarik setelah mereka ulas dan penuh inspiratif untuk dibaca. Pilihan kita ngga harus sama dengan mereka, keinginan tentu juga dibarengi dengan anggaran yang cukup. Nggak masalah pilih sekolah negeri atau sekolah lainnya yang sesuai dengan budget. Tapi yang jelas harus pilih yang terbaik dong untuk pendidikan anak. Walaupun tahun ini saya masih tenang belum mencari "sekolah baru".
Kenyataannya setelah pilpres perbincangan dunia maya masih dominan soal pilpres, semua merasa menang. Yuk kita menghargai kerja KPU, kita tunggu hasilnya ditanggal 22 Mei. Apapun hasilnya kita terima dan kita bersatu kembali. KPU sebagai wasit.
Jadi inget cerita Bimo, tempo hari Bimo sedih sekali habis lomba robotic, Bimo ngga menang, karena memang yang lain lebih cekatan. Bimo dengan muka sedih dan menahan nangis bilang "Bunda kok Bimo ngga pernah menang?"
"Ga apa-apa nak, yang penting Bimo dapet pengalaman lomba. Yang lain mungkin dirumah juga sering berlatih nah Bimokan latihannya pas disekolah aja".
Bimo ikut robotic emang just for fun aja.
Jadi yang lain itu menang memang mereka lebih baik bukan karena wasitnya curang.
Di Facebook, IG, Twitter mungkin berganti menjadi kajian-kajian atau cara-cara mengisi waktu yang lebih bermanfaat dibulan suci. Supaya apa? supaya Allah ridha dan hidup didunia ini menjadi ladang buat beribadah kepadaNya.
Atau persiapan liburan panjang dengan searching travel agent yang menawarkan paket murah meriah ke Luar Negeri.
Atau tips mencari sekolah anak yang baik, saya suka sekali membaca berbagai cerita orang tua yang inspiratif mengenai ini. Mungkin ada yang tertarik sama sekolah negeri saja, ada juga yang pesantren, atau sekolah swasta lainnya dengan berbagai tema. Semua menarik setelah mereka ulas dan penuh inspiratif untuk dibaca. Pilihan kita ngga harus sama dengan mereka, keinginan tentu juga dibarengi dengan anggaran yang cukup. Nggak masalah pilih sekolah negeri atau sekolah lainnya yang sesuai dengan budget. Tapi yang jelas harus pilih yang terbaik dong untuk pendidikan anak. Walaupun tahun ini saya masih tenang belum mencari "sekolah baru".
Kenyataannya setelah pilpres perbincangan dunia maya masih dominan soal pilpres, semua merasa menang. Yuk kita menghargai kerja KPU, kita tunggu hasilnya ditanggal 22 Mei. Apapun hasilnya kita terima dan kita bersatu kembali. KPU sebagai wasit.
Jadi inget cerita Bimo, tempo hari Bimo sedih sekali habis lomba robotic, Bimo ngga menang, karena memang yang lain lebih cekatan. Bimo dengan muka sedih dan menahan nangis bilang "Bunda kok Bimo ngga pernah menang?"
"Ga apa-apa nak, yang penting Bimo dapet pengalaman lomba. Yang lain mungkin dirumah juga sering berlatih nah Bimokan latihannya pas disekolah aja".
Bimo ikut robotic emang just for fun aja.
Jadi yang lain itu menang memang mereka lebih baik bukan karena wasitnya curang.
0 comments:
Post a Comment